W4dgo4O8H60DAkzaBrOmThLWXI37G4Rn1PVTHQ0I

Kegelisahan antara bertahan di Blogger atau kembali ke HTMLy

Kegelisahan antara bertahan di Blogger atau kembali ke HTMLy

Ini merupakan kegelisahan yang keliru, aku cukup menyadarinya. Hanya saja, ambisi untuk menulisnya tetap lebih besar daripada memendamnya.

Blogger, dengan segala fitur gratisnya benar-benar menggiurkan. Di sisi lain, aku dipaksa olehnya untuk begadang sampai pukul satu dini hari hanya untuk menjelajahi template dan eksistensi bloger yang masih tersisa.

Sedangkan HTMLy, menawarkan mudah dan ringan yang tiada tara. Mengedit tampilan di situs HTMLy jauh lebih gampang daripada Blogger. Sebab, semuanya sudah tersusun rapi. Layout untuk homepage ada sendiri, untuk blog ada sendiri, untuk single-blog ada sendiri, bahkan untuk setiap halaman bisa kita pasang layout khusus yang benar-benar berbeda dari induk. Tempatnya sudah jelas yang dibagi menjadi satu file terpisah. File untuk CSS hingga Javascript juga terpisah.

Namun, segala kemudahan dan kecepatan loading tercepat karena flat-file CMS itu mengharuskan untuk kompromi dengan langganan hosting dan domain. Mungkin itu bukan masalah yang perlu dipikirkan, soalnya HTMLy bisa berjalan sangat mulus di hosting 50k/tahun. Masalah yang lebih besar adalah fitur pencarian keparat dan harus menggunakan komentar pihak ketiga.

Karenanya, aku urung memindahkan semua catatan (sekitar 600 catatan) dari blog lama ke blog gratisan bungarampaicatatan.blogspot.com ini karena alasan itu.

Berbicara tentang template Blogger yang tidak ada habisnya

Blogger dan template merupakan satu kelindan.

Layanan yang biasa ditawarkan pada penyedia template Blogger seperti "gratis update selamanya" itu omong kosong. Kita tidak bisa serta merta mengganti template jika ada pembaruan. Semua pengaturan dan customisasi yang sudah kita berikan di template lama akan hilang.

Artinya, kalau di suatu waktu kemudian kita mengganti template, harus mulai mengedit dari nol agar tampilannya sesuai dengan template sebelumnya.

Apalagi ini hanya satu file .XML, yang mana semua HTML, layout, CSS, script, fungsi, dan lain sebagainya menyatu. Aku yakin bloger yang mau meluangkan waktu untuk mengedit semuanya akan cenderung lebih berisiko menanggung mata minus daripada mengedit HTMLy.

Pilihan template bawaan yang terbatas merupakan masalah lain di samping pembajakan template developer. Pun, tidak banyak developer yang mau eksplorasi bentuk dan tampilan hingga benar-benar terlepas dari standar baku template umumnya.

Maksudnya, secara garis besar template Blogger ya itu-itu saja. Misalkan, ada yang membuat model teks saja (text based) yang sangat clear, menonjolkan subscribe email, tanpa JQuery, atau lainnya. Beberapa memang ada, tetapi yang kembali lagi, itu-itu saja.

Belum lagi fitur esensial yang membuat Blogger setara dengan WordPress, langganan via email, yang hilang dikebiri Google. Platform ini lama kelamaan tak ubahnya kuburan sepi yang kering dan mengenaskan.

Begadang memilih template Blogger bukan kali pertama

Sialnya, begadang hanya untuk melihat (dan memilih) template Blogger bukan kali pertama yang kulakukan. Entah kenapa, aku selalu bisa menemukan celah dan masalah dan ketidaksesuaian dengan harapan untuk setiap template yang kucoba.

Hingga kemudian aku berpikir untuk membuat template sendiri yang benar-benar sesuai harapan. Pikiran itu segera kutampik lantaran tidak memiliki "Jarvis" pro yang bisa kupecut. Ya, setidaknya untuk saat ini. Entah di kemudian hari.

Gelisah antara bertahan di Blogger atau kembali ke HTMLy mustahil kutemukan jawabannya. Itu bukan sesuatu yang bisa diputuskan sekali jongkok sebagaimana urusan berak.

Menyibukkan diri dengan hal lebih penting

Aku tidak lupa. Masih ingat dengan terang benderang bahwa yang lebih penting dari melihat-lihat template  Blogger paling bagus adalah menulis bagus.

Tidak semua orang mau menulis, terlebih di zaman yang semuanya memiliki "Jarvis" masing-masing. Kecerdasan buatan membuat semua orang menjelma penulis produktif, sekaligus mengubahnya menjadi pembaca paling buruk.

Kita terlalu sering mengunggah artikel dan tulisan di blog tanpa menaruh perhatian pada kualitasnya. Mengabaikan apakah tulisan tersebut bernas atau hanya tahi yang dibuang untuk disajikan kepada khalayak. Lantas berharap ada banyak orang yang memiliki ketertarikan pada tahi-tahi keluaran Si Jarvis. Tetapi setidaknya, jika menggunakannya sebagai perbandingan maka kegelisahan dan begadangku melihat template Blogger masih mendingan baik daripada para produsen tahi.

Itulah kenapa kau beruntung jika menemukan blog bungarampaicatatan.blogspot.com ini, sebab tidak akan kautemui tulisan produksi Si Jarvis. Kau hanya akan menemui tulisanku. Meski itu sama-sama tahi, setidaknya berasal dari manusia sungguhan.

Mengabaikan semuanya

Kalau tidak salah ingat, aku sempat mencatat dalam diam untuk ketenangan pikiran, bahwa:

...salah satu cara terbaik untuk memperoleh ketenangan pikiran tidak lain dengan mengabaikan semuanya.

Memikirkan sesuatu memang bisa memicu gelisah, terutama kalau pikiran berputar-putar tanpa menghasilkan keputusan atau tindakan. Psikolog menyebutnya rumination (memutar ulang masalah yang sama) atau worry (membayangkan skenario buruk di masa depan). Pikiran seperti itu terasa seperti "sedang menyelesaikan masalah", padahal sebenarnya hanya jalan di tempat.

Sayangnya, semakin keras kita berusaha tidak memikirkan sesuatu, semakin sering pikiran itu muncul.

Menggunakan kerangka itu, aku sebenarnya dapat merasakan ketenangan asal memikirkan dengan cara yang tepat. Cukup memikirkan sekali, mengambil keputusan, dan melupakannya.

Tetapi, wong kadung senang dengan gelisah. Jadi biarlah kegelisahan ini kupelihara hingga luruh seiring waktu seperti sebelum-sebelumnya. Tanpa perlu jawaban, tentu saja.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
Traktir kopi ☕
Lebih lamaTerbaru

komentari

Komentar terbaru