W4dgo4O8H60DAkzaBrOmThLWXI37G4Rn1PVTHQ0I

Mencatat anak hilang

Anak hilang itu adalah aku di usia tujuh.

Belakangan ini agak aneh. Ingatan tentang masa lalu datang silih berganti dengan cara yang ganjil. Selain perjalanan blog dan serentetan kenangan masa kecil sampai remaja, aku juga teringat dengan seorang teman yang mengatakan semacam baiat di hadapan kopi pada suatu sore, bahwa dia adalah orang yang meyakini manusia akan mengingat masa lalu sebelum mati. 

Dia benar-benar mati, menjadi manusia yang menghamba pada uang. Dia yang semula menghabiskan waktu luang di antara kesungguhan kuliah dengan mendengarkan pengajian, membaca Al-Qur'an, dan membaca buku-buku kiri; dua hari kemudian merelakan seluruh dirinya menjilat ujung sepatu kepala desa.

Secara harfiah, sekarang dia masih hidup. Sejahtera, tentu saja. Namun bagiku, dia telah mati. Dan kata-katanya terakhir di hadapan kopi pada suatu sore itu tidak lain merupakan wasiat.

Ingatan itu kuambil langsung dari 2019 sebelum pandemi. Kami masih memiliki kebebasan yang luar biasa. Kami bisa pergi ke warung kopi pukul sepuluh malam, lalu pulang setelah pengunjung pertama datang keesokan paginya. Kami juga bebas menginap di indekos teman-teman yang lain, termasuk mencicipi anggur yang ditimbun di drum-drum bekas Cleo. Atau keluar-masuk kampus meski tengah malam lantaran berhasil menjadikan satpam sebagai karib.

Sekarang, ingatanku melambung ke 2004 di sebuah pasar tradisional berjarak dua kilometer ke arah timur dari rumah. Aku datang ke sana suatu pagi bersama ibu. Di sana pula aku hilang, itu menurut orang-orang. Padahal, aku ingat betul hanya sedang bermain-main di barisan para penjual ikan. Ada ikan lele, ikan patin, dan ikan gurame yang semuanya masih menggelepar. Letaknya di sebelah selatan tukang jagal sapi. 

Kata ibuku, dia panik bukan kepalang mendapati aku tidak berada di sebelahnya. Dia lantas meronta, menangis, sembari lari-lari kecil ke pusat informasi. Diumumkannya berita kehilangan seorang anak dengan ciri-ciri persis denganku melalui pengeras suara pasar.

Tidak ada yang kutahu tentang betapa paniknya ibuku. Yang kuingat selain ikan-ikan adalah ibuku yang masih menangis dan memelukku setelah berhasil melihatku. Ini membuktikan bahwa aku adalah sosok yang sangat berharga untuknya, setidaknya saat itu.

Apa yang kauharapkan dari seorang bocah usia tujuh selain kebingungan? Aku tidak mengerti apa-apa, hanya saja setelahnya, ibu tidak pernah mengajakku ke pasar lagi.

Anak hilang di pasar 

Bagian yang lebih menarik dari ingatan tentang kenangan adalah mengandaikan.

Ini agak runyam. Jadi begini. Andaikan saat itu, anggap saja aku diculik orang jahat dan mati, atau diculik hantu jahat dan mati, aku yakin kematian bocah usia tujuh lurus menuju surga.

Bocah polos yang masih lucu itu akan dikenang dengan keindahan parasnya, kelembutan sikap malu-malunya, kecerdasannya karena selalu ranking satu, dan berbagai harapan dan kebanggaan orang-orang sekelilingnya ketika dia beranjak dewasa.

Tetapi, setelah sampai setua ini, bocah itu justru menjelma sampah di tengah keluarga saleh. Orang-orang terdekat yang semula membanggakan dengan senyum lebar berubah memalingkan wajah karena malu. Yang bukan tidak mungkin jika dia hilang lagi di pasar, keluarganya akan berterima kasih kepada pasar. Telanlah manusia itu bulat-bulat dan jangan dikeluarkan lagi meski sudah jadi tahi! Ya, semua akan berharap begitu kecuali ibu.

Ibuku adalah seorang salihah yang sebenarnya. Jika anaknya dalam ketersesatan, dia akan marah sebelum membuka tangan untuk menyambutnya pulang dalam pelukan.

Dan berhubung anak usia tujuh yang hilang di pasar sudah terlanjur ditemukan, aku jadi penasaran takdir besar macam apa yang menantiku di depan. Sebab, ujian yang dihadirkan kehidupan sudah begini rupa luar biasanya.

Konon, pelaut ulung lahir dari samudra yang penuh badai dan topan, bukan pantai yang tenang.

Anak hilang kedua kali

Sayangnya, hilangku di pasar bukan kali pertama. 2009, aku juga sempat hilang (atau kabur) dari rumah seorang saudara di Tulungagung bersama sepupu saat usia dua belas ketika Hari Raya Idul Fitri. 

Di kota itu, ada cukup banyak truk yang lewat di jalan aspal utama, yang salah satunya akan mengantarkan aku menuju alam baka jika sepupu tidak menarikku kembali.

Saat moncong sebuah truk hijau berada lima meter di depanku, aku merasa waktu melambat. Sungguh, rasanya seperti film-film India mana pun yang pernah kautonton. Nyaris saja aku mengukir kata tamat untuk hidupku yang singkat.

Usia dua belas rasa-rasanya bagus juga. Aku belum membebankan dosa yang terlalu besar untuk diri sendiri. Sehingga, Allah akan turut memberi rida agar bocah usia dua belas lurus menuju surga.

Sayangnya (atau untungnya), sepupu menarikku sekuat gajah. Membuatku terpelanting ke belakang yang barangkali menurutnya tangan keseleo lebih baik daripada remuk dihantam moncong truk.

Cerita heroik sepupuku menjadi perbincangan hangat di keluarga besar. Sementara aku adalah tokoh pendukung yang hampir melayang nyawanya agar cerita itu semakin hidup. Aku juga mendapati ibu marah sebelum memelukku sambil mengucap hamdalah berkali-kali. Yang cukup karena itu, sudah mampu membuatku terisak dan menangis karena entah.

Usia kecil sering datang keajaiban. Setelah setua ini, keajaiban merupakan sesuatu yang langka. Keajaiban hanya akan mendatangi orang-orang pilihan, dan kebanyakan justru bukan mereka yang paling mengharapkan.

Anak hilang usia tiga puluh 

Bayangkan, apa yang akan terjadi jika karena suatu hal membuat anak usia tiga puluh hilang di pasar? Tidak ada sesuatu yang menarik. Usia ini tergolong tua, yang seharusnya disebut sebagai 'orang' alih-alih 'anak'. Para orang dewasa dapat berpikir logis sekaligus menjaga diri mereka sendiri.

Jika usiamu sekarang berada di sekitar angka tiga puluh, sebaiknya tidak coba-coba mengundang keajaiban dengan cara nekat. Kau tak perlu sengaja menghilang di pasar hanya untuk mendapat peluk hangat ibu, kau juga tak perlu sengaja mencari moncong truk yang sedang berjalan untuk mendapatkannya. Sebab, kau (dan aku) hanya perlu pulang ke rumah.

Temanku yang sudah mati dapat hidup kembali jika mau pulang ke rumah. Dia cukup melepas seragam dari badannya, juga lidahnya dari ujung sepatu kepala desa. Sehingga kami bisa menghadapi kopi di suatu sore dengan cara yang lebih baik.

Aku si anak hilang, temanku yang kehilangan dirinya sendiri, kita yang dilanda sengkarut; bisa ditemukan oleh ibu. Dan ibu itulah keajaiban yang --sejak terakhir kalinya muncul hingga setua ini-- mati-matian kita cari.

Sungguh, ibu, anakmu ingin kembali pulang, tetapi bukan dalam kondisi kalah seperti ini.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
Traktir kopi ☕
Lebih lamaTerbaru

komentari

Komentar terbaru