Jangan salah paham dengan orang yang diam --tidak bergerak dan tidak berbicara. Dia barangkali sudah mengalami rasa sakit karena bercerita kepada orang lain. Bahkan, seseorang yang kauanggap sebagai teman, dapat menjelma tombak yang menghunus jantungmu. Oleh karenanya, diam dan menanggung pecah-ruah kembang api di dalam diri merupakan pilihan terbaik.
Ironisnya, diam yang seharusnya bisa dilakukan oleh siapa saja justru serupa memikul gunung. Seharusnya, seorang pengangguran bisa diam, orang kelaparan bisa diam, orang sakit bisa diam, orang miskin bisa diam. Nyatanya, dalam kondisi paling buruk (atau paling baik pun) kebanyakan orang malah tidak bisa diam.
Kita terpancing untuk bercerita. Yang mana itu tak beda membuka mulut singa, lantas mengundi keberuntungan dengan memasukkan kepala kita ke sana. Kalau beruntung, kita akan keluar dengan lebih percaya diri menghadapi undian-undian yang lebih mengkhawatirkan. Kalau kurang beruntung, kita akan terkoyak oleh keinginan bercerita. Dan satu-satunya yang paling celaka dari semua hal tentang bercerita adalah bercerita kepada orang lain.
Tidak semua orang merupakan pendengar yang baik sebagaimana tidak semua mabuk itu buruk. Diam --tidak bergerak dan tidak berbicara-- dapat menjadi juru selamat yang menyelamatkanmu.
Sedangkan kalau berbicara tentang mabuk yang baik, ada beberapa contohnya. Mabuk kendaraan dan mabuk asmara kepada Tuhan, misalnya. Pada yang pertama, merupakan reaksi biologis ketidakselarasan apa yang ada di luar dan dalam dirimu. Pada yang kedua, kau menyerahkan segala-galanya untuk-Nya. Dalam kondisi itu, kau bebas bercerita semuanya. Kau perlu hadir dalam keadaan telanjang yang sesungguhnya. Kau tidak perlu mengenakan topeng seperti yang sering kaulakukan saat bercerita kepada orang lain. Sehingga, bercerita kepada Tuhan adalah juru selamat juga.
Dan kalau sudah mencoba untuk diam dan bercerita kepada Tuhan, tetapi masih ada kembang api dalam dirimu yang masih kautahan. Maka, menulis adalah juru selamat yang lain.
Setelah semuanya. Kuberi fakta bahwa ketenangan pikiran bukan sesuatu yang mutlak perlu kauusahakan. Kau akan tetap hidup tanpanya. Dalam kerangka ini, kau sebenarnya tidak perlu diam atau bercerita atau menulis. Bisa jadi usahamu untuk menjauh dari ketenangan pikiran malah mendekatkanmu kepadanya. Sebab, salah satu cara terbaik untuk memperoleh ketenangan pikiran tidak lain dengan mengabaikan semuanya.

komentari