W4dgo4O8H60DAkzaBrOmThLWXI37G4Rn1PVTHQ0I

Asbak dan lelatu

Setelah dua tarikan napas dalam
selembar tisu bekas ingus di gelas
kopi Kapal Api bekas kemarin yang diseduh ibu
dan semerbak asap di ruangan.
Seekor semut merayapi lantai
bumi gonjang-ganjing adegan gara-gara
sendirian mencari teman
yang membawa kabur makanan.
Pukul 21.48 di layar Chromebook
suara layang-layang di angkasa
imajinasi yang bimbang.
Hening sebentar sebelum
papan tik berdetik diiringi detak
jantung yang mengantuk.

Meringkuk.

Kilasan kehidupan berjejer di muka
buku berdebu karya seorang kenalan
yang sudah menikah dan memiliki
anak sungguhan.

Aku ingat zaman dulu dalam balutan
nuansa sepia efek foto Nokia yang hangat
seperti peluk pertama seorang perawan
kepada kesepian di malam-malam
mendung tanpa Bintang pun tuak.
Menulis sebuah catatan tentang kehidupan
yang hilang ditelan kakus setahun kemudian.

Ada sebungkus penyesalan yang terbuka
di antara tanda kurung bilangan matematika
tujuh tahun lalu yang tidak bertemu
himpunan selesai.

Si Waktu berpose tolak pinggang
dalam serangkaian kejadian
tak mau berhenti meski sebentar.
Aku menatapnya dari kejauhan
tertinggal kereta sehingga perlu beli
tiket kedua.

Satu-satu kegagalan dan penolakan
berkumpul di piring sarapan pagi
bersama lauk basi dan nasi.
Rasa mual datang setelahnya
sehingga jamban menjadi tujuan
untuk redakan nyeri dan isak
dalam balutan kentut serak.

Berbaring.

Melihat wajah teduhmu
mata indah yang membuatku luluh
dagu dan bibir dalam senyum
terbawa sampai mimpi berhari-hari.
Pasang-surut air laut dari tepi pantai
kuingat tanganmu menggapai
rembulan yang tinggal setengah
dari dahan kelapa keemasan.
Kau bersenandung tentang cinta
kemolekan tubuh dan harapan
untuk kehidupan indah bersama kekasihmu.

Menelusuri jemari lentik yang cakap mengetik
rentetan pesan kepada awan agar memberi keteduhan
untuk seorang kekasih yang berjuang menggapai masa depan.
Seberkas lelatu jatuh ke atas bidang Gajah Duduk
membuat lubang yang mustahil hilang
selain oleh balutan kelembutan suaramu.

Tengkurap.

Sebungkus rokok dalam empat jam masih kurang
untuk mengingat keindahan kenangan masa lalu
bersamamu.
Aku melihat gelap lantai yang dingin dan pesing
dengan semut berkejaran.
Aku melihat gelap kelangkang yang hangat dan wangi
dengan waktu berhenti.


Terlelap.

Langit menawarkan Bintang dan tuak
dalam balutan kenangan masa lalu
yang lebih ampuh membawaku lelap
daripada kopi buatan ibu.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
Traktir kopi ☕
Lebih lamaTerbaru

komentari

Komentar terbaru