Beberapa waktu belakangan, aku bertemu lagi dengan masa lalu yang bernama matematika. Hitung-hitungan yang erat kaitannya dengan angka dan simbol, secara harfiah, tidak lain. Aku mendapat dua tanda takdir yang memintaku ke sana. Jika sudah tiga, bisa jadi memang, dan seharusnya, aku benar-benar perlu kembali ke sana.
Sayangnya, masa lalu yang kumaksud berada di rentang waktu yang benar-benar lalu. Itu terjadi pada interval tahun 2015 hingga 2019, dan setelah sekian lama melupakannya tanpa lambaian tangan, aku mendatanginya kembali dengan telanjang; kosong.
Di hadapan operasi hitung dasar --katakanlah penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian-- diri ini rasanya begitu kecil dan kerdil. Simbol-simbol itu menjelma gunung yang sangat tinggi. Untuk mendakinya saja membutuhkan lebih banyak energi. Aku tidak lagi berada di titik nol, ini sudah negatif yang keterlaluan.
Setelah kupikir-pikir, hubunganku dengan matematika di masa lalu tidaklah begitu harmonis. Buku-buku yang memuatnya kuanggap sama dengan obat tidur paling mujarab. Tidak ada obat tidur yang efeknya terasa saat itu juga selain lembaran angka dan simbol yang membentuk serangkaian sihir aneh. Dan tertidur di atas buku matematika akan mengantarkan aku pada mimpi-mimpi yang lebih besar dari aneh.
Aku dapat melintasi hitungan jutaan tahun cahaya menuju suatu ruang sekian dimensi yang terlepas dari materi dan waktu. Di sana ada tak hingga garis yang saling beririsan. Kepalaku kadang berada di bawah, kadang di samping --entah mana bawah dan samping. Berputar dalam orbit kartesian namun tidak kunjung membentuk lingkaran. Berakhir pada persilangan yang hanya akan membikin perutku mual setelah bangun tidur.
"Apa yang akan kauharapkan dari mahasiswa yang lebih memilih bolos untuk memancing ikan di kali dekat sawah daripada mengikuti kelas matematika?" tanyamu pada cermin.
Dia di dalamnya menjawab dengan pertanyaan lagi, "Apa yang kaudapatkan dari kelas matematika selain seorang istri yang kini berhasil melahirkan anak perempuan yang lucu?"
Kau mulai membombardir dengan himpunan pertanyaan lebih mengkhawatirkan, "Mengapa aku perlu membuktikan bahwa dua lebih besar dari satu?", "Apa yang perlu kuhitung jika selama ini hanya ada kosong?", "Untuk apa segala usaha dalam sebutan bilangan apa pun jika selalu dibagi nol?".
Jika mau repot-repot mengumpulkan orang yang menghindari matematika, maka akan muncul sebanyak angka desimal di belakang koma nilai pi. Rata-rata memang begitu, orang yang menganggap matematika itu mengantuk tak akan pernah berhenti. Dan aku akan lebih setuju dengan mereka. Tetapi, itu bukan berarti harus memposisikannya di garis tepi alih-alih median yang netral. Justru modus anggapan yang muncul adalah keburukan, membuat sebagian kecil orang yang cinta dengan matematika menjadi unik --untuk tidak menyebut aneh.
Kalkulus yang seharusnya hanya bermakna batu kerikil kecil, dengan wajah matematika mengejawantahkan diri menjadi momok menakutkan. Orang-orang yang tadi akan lebih suka menumpuknya sebagai bantal. Mereka niscaya lebih memilih untuk bergulat dengan mimpi aneh daripada harus membuka halaman pertamanya.
Dan, beberapa hitungan jam yang sebentar, aku akan bertemu matematika lagi setelah tujuh tahun berpisah. Berada satu garis dengannya membuatku terpaksa menggunakan otak lebih banyak daripada yang kugunakan untuk menulis.
Aih, otak, organ manusia yang menjadi inspirasi komputer kuantum; sekaligus satu-satunya organ yang tidak akan rusak justru jika digunakan terus-menerus, telah lupa kuletakkan di mana. Mungkin di dalam buah bangun tak beraturan, atau di atas bidang nun jauh, atau sebenarnya tetap berada di tempatnya. Entahlah.
Setelah semuanya, demi tidak terlalu membenci matematika, aku perlu mengingat jasanya mempertemukanku dengan seorang istri yang kini berhasil melahirkan anak perempuan yang lucu. Sementara itu, hubunganku dengan matematika akan menjadi harmonis jika dan hanya jika dalam pertemuan yang sebentar lagi, dia mampu memberikan sesuatu yang lain; sebuah pekerjaan, misalnya.

komentari