12 September 2026
Bagaimana ada seorang manusia sejak lahir hingga di usianya yang tiga puluh masih menganggur?
Hal-hal aneh memang kerap terjadi di dunia yang sama-sama aneh ini. Di negeri yang lebih aneh lagi.
Aku bukanlah satu-satunya manusia yang masih menganggur seumur hidup. Menghabiskan sebagian waktu untuk memancing ikan selain tidur. Dan menghabiskan sedikit sisa setelah dikurangi keduanya untuk mencari uang.
Mencari uang dengan serabutan. Ini cukup mengkhawatirkan. Yang tidak akan jauh dari anggapan menganggur.
Seperti yang pernah kukatakan bahwa usaha berdarah-darah dan mati-matian yang kukerahkan belum juga mampu mengangkat aku dari kemelaratan. Karenanya, aku lebih sering berpeluk-erat dengan kesulitan mencapai kehidupan layak menurut definisi apa pun.
Memang banyak orang yang masih menganggur di usia tiga puluh; tetapi hanya sedikit yang keras kepala untuk mengakhirinya.
Mencatat menganggur 2
25 September 2026
Dalam seminggu terakhir, aku telah mengirim belasan surat lamaran, sekitar 12 atau 14, aku lupa menghitung jumlah pastinya.
Itu berarti dalam sehari minimal mengirim dua. Yang kutulis dan sesuaikan dengan kebutuhan pekerja mereka. Aku tidak asal lempar, apalagi asal memilih pekerjaan. Sehingga membutuhkan lebih banyak usaha dan waktu dalam mencari lowongan. Satu hari untuk dua lowongan yang agaknya sesuai, ya, seperti itu.
Hasilnya, enam dari belasan yang tadi akhirnya lanjut ke babak berikutnya. Apa itu? Wawancara. Aku mendatangi satu-satu --wawancara, interview, dan ada yang memberi tes tulis juga-- hampir setiap hari. Kebanyakan di waktu pagi.
Sampai kutulis catatan ini, belum ada satu pun dari wawancara dan lainnya dapat lanjut ke babak terakhir. Belum ada pekerjaan yang cukup layak untuk menggempur dan menghancurkan kondisi menganggur yang sejak lahir aku tanggung.
Banyaknya penolakan yang berulang, membikin aku nyaris putus asa. Pagi ini aku mandi dengan air garam, pikiranku sudah kalut, jangan-jangan ada pengaruh setan yang turut andil menyengsarakan. Setan, entitas gaib yang paling mudah kita salahkan, terlebih pada kondisi seperti ini.
Dan kekuasaan Allah mestinya mencakup yang gaib dan nyata, dan yang berada di antaranya maupun di luarnya. Daripada terlanjur sinting mengalami penolakan pekerjaan yang berulang, aku akan lebih percaya jika semua ini adalah ujian-Nya. Siapa tahu, dengan keluasan rahmat-Nya, aku mendapat sesuatu yang lebih berharga dan berarti, seperti ridho-Nya.
Terlepas dari ramah-tamah kelembutan agama, aku tidak bisa lupa bahwa aku adalah salah satu korban 19 juta lapangan pekerjaan. Ada geram yang terkumpul di kepalan tangan kanan. Kepalan yang siap diluncurkan ke muka orang itu.

komentari