W4dgo4O8H60DAkzaBrOmThLWXI37G4Rn1PVTHQ0I

Mencatat uang

Mencatat uang

Uang dapat menjelma sesuatu yang sangat indah atau sebaliknya, sesuatu serupa pengkhianatan dan dendam kesumat. Sebenarnya tidak hanya uang. Ada begitu banyak hal yang lain. Hanya saja, uang sebagai Tuhan sudah dikenal jauh sebelum orang-orang menuhankan kecerdasan buatan.

Karibmu yang paling setia dapat berkhianat. Istrimu yang cantik dapat berpaling. Kritikus yang paling vokal menyuarakan keadilan dapat putar arah dalam semalam. Penjara yang dingin dan menyiksa dapat terasa begitu nyaman karena ada televisi dan kulkas berisi anggur dan tuak. Dan yang paling berbahaya dari semuanya, uang dapat mengubahmu menjauh dari dirimu sendiri. Kau akan melupakan siapa dirimu, apa tujuanmu, dan untuk apa kau di-ada-kan di dunia ini.

Aku perlu segera menulis catatan tentang uang sebelum uang benar-benar mengeluarkan sihirnya untuk mengubahku. Sebab, aku memiliki firasat --di mana firasatku kebanyakan tepat sasaran-- bahwa aku akan segera memiliki cukup banyak uang. Kondisi miskin yang mengenaskan sekarang kurasa sangat pas untuk menulis bahwa uang itu sepenuhnya jahat. Pun kalau ada yang baik dan indah, itu hanya sebagian kecil. Kau bisa melihat sekeliling, melihat secara langsung bagaimana uang bekerja. Apa pun yang dilandasi oleh uang, niscaya berakhir dengan keburukan. 

Seorang saudagar kaya yang dianggap sangat dermawan mengumumkan kepada khalayak sebuah sayembara. Barang siapa mampu menemukan inovasi mengubah sampah menjadi pohon, dia akan dihadiahi sekarung uang. Kabar itu membuat seisi masyarakat di suatu daerah yang luas berlomba-lomba untuk memikirkan inovasi yang terlihat layak dan meyakinkan. Sehingga, orientasi dari sebuah kerja yang mestinya mulia untuk mengurangi sampah berubah menjadi kegilaan untuk mendapatkan uang.

Beberapa orang bahkan melakukan hal nekat dengan saling sikut. Mereka yang semula penuh rasa syukur dalam kesederhanaan yang cukup, kini memiliki tujuan seumur hidup. Tujuan yang bagaimana pun akan membuat mereka merelakan semua-muanya untuk mencapainya. Sialnya, tujuan itu tidak lebih dari uang dan ketidakpastian.

Pada permulaan, mereka sudah mengabaikan persaudaraan antar sesama. Kerukunan kuat yang terbangun berabad-abad lintas generasi direlakan sedemikian rupa untuk luluh lantak seperti istana pasir terhempas tsunami. Dalam satu tahun pasca-pengumuman itu, sudah ribuan orang mengirimkan inovasi mereka.

Ada yang mulai dengan cara paling sederhana dengan mengumpulkan sampah lalu menjualnya ke pengepul, setelahnya uang hasil penjualan dibelikan bibit pohon. Ada juga yang menyarankan untuk mengubah sampah organik menjadi kompos terlebih dulu, sehingga pohon-pohon memperoleh nutrisi yang cukup untuk tumbuh. Bahkan, ada yang menyarankan untuk menggunakan ramuan ajaib untuk mengubah sampah menjadi pohon secara langsung saat itu juga.

Pada akhirnya, pemenang sayembara tidak lain adalah anak saudagar itu sendiri dengan inovasi mengurangi sampah dan menambah pohon, yang sejatinya tidak ada inovasi sama sekali selain kekosongan. Si saudagar memperoleh kesadaran bahwa di dalam uang ada kuasa.

Kabar tersebut menguap selayaknya angin lalu. Namun persaudaraan antar masyarakat di daerah itu tidak akan pernah kembali seperti semula. Masyarakat menanggung dendam kesumat yang mengerikan. Sedangkan satu di antaranya, yang menyarankan inovasi ramuan ajaib, merelakan kebusukan saudagar dengan menulis buku. Aku masih ingat sebuah kutipan di dalamnya, "…Si Bocah tahu bahwa di dalam uang ada keajaiban; siapapun yang punya uang tak akan pernah merasa sendirian."

Aku bisa menyebutkan lebih banyak contoh bahwa apa pun yang dilandasi oleh uang, niscaya berakhir dengan keburukan. Tentu saja, kau bisa seketika membantahnya dengan menyebutkan satu saja contoh yang berakhir dengan kebaikan. Dan satu contoh itu, akan mengubah catatan tentang uang ini menjadi tidak lebih dari omong kosong sama sekali.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
Traktir kopi ☕

komentari

Komentar terbaru