Aku tidak memiliki cukup
waktu luang untuk menulis
sehingga barang tiga puluh
atau setidaknya
lima belas menit ke depan
aku serahkan kepada tulisan
agar menulis dirinya sendiri
waktu luang untuk menulis
sehingga barang tiga puluh
atau setidaknya
lima belas menit ke depan
aku serahkan kepada tulisan
agar menulis dirinya sendiri
Kopi dan rokok
asbak yang penuh
dan serajut sengkarut
yang tak kunjung terurai
membuatku lelah menuntut
kepada Allah pemilik segala tulisan
Waktu kian mendekat
istri kian menjauh
Semua itu pula kerendahan
sekarang mesti kulupa
menghadap lilin dan hadirin
untuk bersuara, bersedih-ria
Wahai para pendengar!
kalian masih hidup
batok kepala utuh
dada remuk rubuh
aku katakan ini dengan lantang,
"Mari menerima semua-muanya!"
Aku juga tidak memiliki cukup
uang untuk membayar
sehingga beberapa puisi
atau setidaknya
satu saja di antaranya
aku serahkan pada kalian
agar tak redup malam ini
Chromebook dan catatan keuangan
dua puluh lima panggilan
dan ketakutan serupa setan
yang terus menggerus kewarasan
membisikkan di telingaku
kalimat dari masa lalu
Ambil tambang itu
loncat sungai itu
Pada salah satunya ada keindahan
yang mustahil dipahami mata
apalagi mata kaki dan mata ikan
berkumpul dalam pusaran
Ada yang berdiri
ada yang duduk
berbaris-baris
bersatu-satu
berdua-dua
menatap arah sama
Aku tidak memiliki cukup
kekuatan iman untuk bertahan
sehingga di depan puluhan pasang mata
atau setidaknya
sepasang mata teduhmu
aku menemukan rumah untuk bertamu
agar keterasingan tidak menggebu
Anggur basi dan nasi kemarin sore
berkelindan dalam perut keroncongan
dan asam urat di sendi jempol kaki
yang berdenyut saban hari
membuatku mengurungkan niat
menendang tabung gas elpiji
Ibu menangis di sepertiga malam
ayah menangis di bawah kuburan
Punggungku tertancap paku
dilempar dukun bermata satu
dari arah sebaliknya
hingga muntah-muntah tak berkesudahan
Waktu adalah inang
beberapa saja akan tumbang
remuk redam kehidupan
berdengung kedua telinga
menyadari hidup begini adanya
dan mestinya aku terima
Aku juga tidak memiliki cukup
nyali untuk pulang
sehingga di perantauan
atau setidaknya
di depan kalian
aku bersaksi terakhir kali
agar terpatri di hati
Kaki dan tangan gemetar
memegang dua lembar kertas usang
dan lambung masih keroncongan
yang meminta tambahan makan
mari bergoyang!
mari, bersulang!
Ikhlas dengan ketulusan
tulus dengan keikhlasan
Seragam-seragam kumal
yang menyimpan cerita masa lalu
tergantung sembarangan di angkasa
mata berbinar, berpendar
Aku hanya ingin tidur
di teduh matamu
di telapak tanganmu
bermalam-malam
bermaaf-maafan
dalam balutan rida-Mu
komentari